Darwis (21 Mei 1979), atau yang akrab dikenal Tere Liye adalah penulis asal Sumatera Selatan yang sukses membuat pembaca jatuh cinta pada karyanya. Memulai debut pada tahun 2005 dalam buku berjudul “Hafalan Sholat Delisa”, Tere Liye sukses menerbitkan lebih dari 50 buku. Adapun karyanya yang familiar di kalangan book lovers saat ini adalah:
(Wikipedia, 2026).
Bagaimana jika suatu saat wabah penyakit memisahkan kita dengan orang tua, sanak saudara, dan teman-teman kita?
Cerita ini dimulai di Klan Polaris. Dalam sistem kalender Klan Polaris, jumlah hari ada tujuh hari dan setiap tujuh minggu, bulan baru terbentuk. Lantas setiap tujuh bulan, tahun baru tiba. Jika sistem mengalami restart, itu tandanya telah terjadi kekacauan yang besar dan mengerikan.
Bermula pada saat wabah virus ganas menyerang Klan Polaris. Masyarakat yang terjangkit virus harus tinggal di tempat, sementara lainnya bergegas menyelamatkan diri ke sisi lain klan tersebut. Peristiwa mencekam ini, memisahkan seorang bocah usia 12 tahun dengan kedua orang tuanya. Dia adalah N-ou. N-ou tertular virus secara tak sengaja saat ia terkena ludah penderita.
Pemerintah Klan Polaris membiarkan masyarakatnya yang terjangkit virus untuk membusuk hingga ajal menjemput. Sendirian, N-ou bertahan mati-matian melawan virus yang menyakiti tubuhnya. Sebelum akhirnya jatuh tak berdaya, N-ou sempat menyelamatkan seekor kucing yang tertimpa sisa-sisa bangunan. Rasa cintanya terhadap makhluk hidup, membuat N-ou tak tega bila mana kucing itu mati. Namun, tubuhnya kian melemah. Sayup-sayup suara mulai tak terdengar di telinganya. Perlahan, kakinya yang kuat mulai menjatuhkan diri. Virus itu amat menyiksanya.
Apakah N-ou akan selamat?
Jika N-ou selamat, bagaimana kelanjutan kisah hidupnya?
Selengkapnya di Si Putih (Tere Liye, 2021)
Sejak pertama kali masuk ke dalam cerita, saya dibuat penasaran dengan alur Si Putih. Kalimat yang sederhana namun membangunkan imajinasi, Tere Liye memulai dengan penjelasan mengenai Klan Polaris yang amat detail. Ditambah dengan perumpamaan apel busuk, saya merasa sedang memerankan tokoh N-ou sendiri.
Novel dengan rating usia 15+ ini, sangat cocok bagi remaja yang ingin membangun kebiasaan membaca. Dengan buku-buku Tere Liye, saya yakin akan lahir pembaca dan penulis hebat di masa yang akan datang.
Penulis: Revalina Aulia Putri
BIONARASI Penulis
Revalina Aulia Putri, anak bungsu dari empat bersaudara yang lahir pada 11 Februari 2011; kini menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Ambarawa, kelas 9F tahun ajaran 2025/2026. Ketertarikannya pada buku dan dunia sastra Indonesia berawal dari sebuah ketidaksengajaan, yakni ketika ia iseng membeli novel berjudul “Bumi” karya Tere Liye. Sejak saat itu, rasa ingin tahunya terhadap dunia literasi terus tumbuh dan menjadikannya seorang pecandu buku.
Selain membaca, Reva juga aktif menuangkan gagasannya dalam bentuk karya tulis yang ia unggah di blog pribadinya dan berbagai platform website. Gadis yang akrab dipanggil Rere semasa kecilnya ini menganggap bahwa kedua hobinya tersebut merupakan tempat pelarian terbaik dan relaksasi di tengah padatnya tugas sekolah.
Tinggalkan Komentar